sumber : 2.bp.blogspot.com


Tik tok tik tok.

Hening. Hanya detak jam dinding yang terdengar. Aku terpaku di depan layar laptopku. Menatapnya nanar. Aku menghela napas.

Apa yang akan Ayah katakan jika mengetahui hal ini? Ah, aku pasti akan kena marah. Oh, Tuhan! Apa yang harus hamba lakukan?

Aku menghela napas sekali lagi. Kututup katup laptopku dan memilih untuk tidur. Semoga besok aku bisa menemukan jalan keluar dari masalah ini.
***

Aku berlari sambil memegang tas jinjing. Aku tiba di halaman kampus dan segera mencari seseorang. Fardan. Teman seangkatanku. Dia mungkin bisa membantu ku. Dia terkenal hebat dalam menyelesaikan masalah seperti ini.

Dia terlihat sedang asik mengobrol dengan beberapa teman seangkatan kami. Aku mendekatinya.

“Dan, bisa minta waktu bentar gak?”

“Boleh. Ada apa, Fit?”

“Kita ngomongnya di kelas aja yuk!” Fardan menurut dan mengekoriku menuju kelas.

Fardan tampak sedang sibuk mengutak-atik benda berbentuk kotak di depannya. Setelah beberapa lama, dia berhenti dan menyandarkan tubuh ke sandaran kursi yang didudukinya.

“Gimana, Dan?” tanyaku penasaran. Fardan menggeleng.

“Kalo kayak gini susah, Fit! Kayaknya lo mesti bawa ke service centernya deh!”

Lagi-lagi aku menghela napas panjang. Ada rasa kecewa yang mendalam di dalam dadaku.
***

Kali ini aku sedang berada di sebuah gedung yang penuh dengan barang-barang elektronik. Orang-orang menyebut tempat ini sebagai Computer City.

Tempat ini adalah harapan terakhirku. Aku menuju service center yang disarankan Fardan tadi. Semoga saja masalahku ini menemui titik terang.

“Gimana, Pak?” tanyaku pada seseorang di service center. Bapak yang kutanyai memperlihatkan reaksi yang sama dengan Fardan.

“Kalo gini susah buat diperbaiki lagi, Dek! Mesti ganti sel!” katanya.

“Ganti sel??” aku bingung. Tidak mengerti apa yang dikatakan Bapak itu.

“Iya, ganti sel. Seluruhnya. Hardwarenya rusak, Dek! Saya sarankan , mending beli baru aja.”

Heh?? Separah itukah?

Aku meninggalkan Bapak  tadi sembari senyum tipis. Di kepalaku otakku tengah bekerja keras. Memikirkan apa ada cara lain untuk ini. Tapi aku tidak menemukan cara lain itu.

Laptop ini adalah barang kesayanganku. Laptop ini sudah banyak membantu ku dalam mengerjakan tugas-tugas dari dosenku. Selain itu, laptop ini juga pemberian dari Ayah dua tahun lalu saat aku berulang tahun.
Semalam saat mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik. Tiba-tiba laptopnya mati dan tidak bisa dinyalakan lagi. Aku sudah mencoba mencari bantuan tapi tidak berhasil.

Harus bagaimana lagi? Mungkin laptop ini sudah sampai pada batasnya. Mungkin ini juga salah satu cobaan dari Tuhan yang harus ku hadapi. Aku juga harus siap dengan reaksi Ayah nanti saat mengetahui hal ini.

Selamat tinggal laptopku. Terima kasih atas bantuannya selama dua tahun ini.
Aku baru saja tiba dari bandara. Orang pertama yang ingin ku temui adalah kamu. Namun, aku tidak lagi dapat melakukannya. Saat tiba di rumah mu. Tidak satu orang pun menyambutku. Bakhan kamu pun tidak. Semuanya sedang bersedih. Bersedih karena kepergian mu.

Aku memasuki ruang tengah rumahmu. Terlihat tubuhmu telah terbujur kaku diselimuti kain putih. Orang-orang mengelilingi mu sambil membacakan doa. Ibumu terlihat begitu rapuh dan terus menitikkan air mata. Sementara adik kecilmu memilin-milin kain yang menutupi tubuhmu. Mungkin dia belum memahami hal ini.

Saat melihatku, ibumu tersenyum tipis dan membolehkan ku untuk mendekati mu. Aku duduk tepat di sampingmu. Wajahmu terlihat lebih putih dari biasanya. Terlukis kebahagiaan di sana. Mungkin kamu lega karena bisa meninggalkan semua derita karena penyakit yang kamu alami semasa hidup.
***

Pemakaman mu  telah selesai. Aku memutuskan untuk meninggalkan tempat peristirahatan terakhirmu dengan segera. Aku tidak bisa lama-lama. Aku takut aku akan menangis juga jika terlalu lama di sini. Saat aku akan memasuki mobil, ibumu memanggilku.

“Nak Raka, ini ada sesuatu.” Katanya sambil menyodorkan secarik kertas.

“Apa ini tante?”

“Ini surat yang ditulis Nina saat sedang kritis dan tidak sempat dikirim kepada mu.” Kata ibumu kemudian berlalu meninggalkanku.

Aku menatap kertas berwarna biru cerah yang ku pegang. Aku memasukkannya ke dalam saku kemeja. Dan berencana membacanya saat di rumah.
***

Raka, apa kabar? Bagaimana kabar di L.A? Apa kamu sudah dapat teman baru?
Kata dokter Serdi, kondisiku sudah semakin membaik. Jadi jangan mengkhawatirkanku ya!
Aku juga punya teman baru sekarang. Namanya Wini!  Dia menderita penyakit yang sama denganku. Setiap hari kami selalu mengobrol di taman rumah sakit. Aku jadi tidak kesepian lagi.
Raka di sana gak kesepian kan?
Aku akan selalu doain Raka biar kuliahnya sukses di sana.
Baik-baik ya~ :D
NINA

Isi surat dari mu begitu singkat. Namun sanggup menghancurkan tembok yang membendung air mataku. Aku menangis. Nina, kamu bagitu baik. Saat sedang kritis pun kamu masih memikirkan aku. Saat kondisi mu semakin buruk kamu masih saja mendoakan ku. Kamu juga berbohong tentang keadaanmu agar aku tidak mengkhawatirkan mu. Aku menjadi sedikit menyesal telah mengambil beasiswa itu dan memilih untuk meninggalkanmu.

Ku baca tulisan di atas kertas biru itu sekali lagi. Kali ini aku menyadari, ada sesuatu yang aneh pada tulisannya. Ada beberapa huruf yang sengaja ditebalkan. Aku mulai menyusun huruf-huruf itu dari atas.

PLEASE STAY WITH ME…

Apa itu yang sebenarnya ingin kamu sampaikan pada ku, Nina?

Aku menangis lagi. Aku merasakan perih di dadaku. Aku ingat kamu selalu tersenyum saat aku bilang aku akan pergi ke L.A untuk kuliah di sana. Kamu selalu mendukungku untuk tetap pergi ke sana. 

Inikah keinginanmu yang sebenarnya? Aku yang bodoh ini sungguh tidak menyadarinya.

Kali ini aku benar-benar menyesal telah meninggalkan mu. Kali ini aku benar-benar menyesal karena tidak di samping mu. Bahkan di saat-saat terakhirmu…
sumber : free-extras.com



Saat ini aku sedang berada di kamar kecilku. Saat ini aku sedang memikirkanmu. Memikirkan dirimu yang ku kira sudah melupakan ku. Dengan memikirkan mu saja, dadaku terasa hangat.

Aku jatuh hati pada mu sejak pertama kali kita bertemu. Kamu sangat baik pada semua orang. Kamu selalu perhatian dan ramah. Dan yang paling aku suka adalah senyummu. Mungkin ini yang orang-orang sebut dengan jatuh cinta pada pandangan pertama.

Aku selalu berusaha untuk dekat dengan mu. Dengan diam-diam selalu memperhatikan mu. Agar bisa selalu dekat  denganmu, aku bahkan sengaja mengikuti UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang kamu ikuti. Fotografi. Dan akhirnya jadi menyukai kegiatan memotret sama seperti aku menyukaimu.

Tak terasa sudah 5 tahun sejak saat-saat itu. Dan sudah hampir setahun kita tidak pernah bertemu ataupun saling menyapa melalui media elektronik. Setelah kuliah kamu pindah ke luar kota untuk bekerja dan aku tetap tinggal di kota ini menjadi seorang fotografer.

Kupikir kamu sudah lupa pada ku. Ternyata aku salah. Kemarin kamu menelpon dan mengajakku bertemu sore ini.
***

“Selamat datang.” Sambut seorang waiters* saat aku memijakkan kaki ke dalam sebuah restoran keluarga.
Aku menatap mengelilingi restoran ini. Kelihatannya kamu belum datang. Kebiasaanmu. Selalu membuatku menunggu.

“Udah lama? Maaf ya…” katamu sambil mengatupkan kedua tanganmu di depan dada.

“Gak papa.” Oh, ya. Aku sudah terbiasa. Menunggu mu beberapa menit seperti ini bukanlah masalah. aku bahkan sudah menunggu mu sejak lama. Menunggu kamu mengerti akan perasaan ini.

“Lalu, apa yang membuatmu tiba-tiba ingin bertemu? Kupikir kamu sudah lupa padaku.” Lanjutku.

“Heheh. Aku pengen minta bantuanmu.” Katamu sambil menggaruk-garuk kepala.

“Bantuan? Bantuan apa?”

“Hmm… Itu, bulan depan aku akan menikah.”

CTAAR!! Kalimatmu barusan seperti petir yang menyambar tubuhku. Hatiku benar-benar remuk karenanya.

“Aku akan menikah dengan Wenda. Kamu ingat dia, kan?”

Wenda?? Junior kita dulu? Kenapa? Kenapa harus dia? Kenapa bukan aku? Yang selalu bersama mu itu aku!! Aku berontak dalam hati.

“Aku pengen kamu jadi fotografer kita pas pra-wedding sama pesta pernikahan. Bisa, kan?” pintamu sambil tersenyum. Senyum itu. Senyum yang aku suka darimu. Tapi kenapa aku harus menerima senyum dan permintaan mu yang menyakitkan ini secara bersamaan?

“Sania!! Hei!! Kamu denger gak?” katamu sambil mendorong-dorong bahuku.

“Hmm. Aku denger kok.”

“Jadi, kamu mau kan?” tanyamu lagi. Aku mengangguk pelan. Aku berusaha tersenyum sementara hatiku sedang menangis.

Mungkin aku memang tidak ditakdirkan bersama mu. Mungkin aku hanya ditakdirkan untuk melihat senyummu. Senyum yang tak pernah bisa ku sentuh.

"I hum the love song
I want to touch your smiling face
Even though I know that there's someone you're gazing at

My love song never ends - I've already met you
It never will end" YUI - Love & Truth

*waiters : pelayan

Hari-hariku bukanlah hal yang hebat
Hari-hariku tidaklah sempurna
Aku melewatinya seperti kebanyakan orang
Aku melaluinya layaknya hari yang lain

Hidupku bukanlah hal yang luar biasa
Hidupku tidaklah pantas untuk dibanggakan
Aku hanyalah manusia biasa
Aku memiliki banyak keterbatasan

Tapi karena suatu hal,
Hari-hariku menjadi hebat
Hari-hariku menjadi sempurna

Karena suatu hal,
Hidupku menjadi luar biasa
Hidupku dapat dibanggakan

Hari-hariku berubah karena kalian
Hidupku berubah karena kalian

Ayah, ibu…
Sahabatku…
Semuanya karena kalian

Hari-hariku mungkin biasa saja
Hidupku mungkin tak ada apa-apanya
Tapi dengan hadirnya kalian,
Hidupku menjadi bahagia

That's what I call with Happy Line
My happy line
sumber : fokercake.com

Aku sedang berjalan-jalan mengitari suatu mall. Aku sedang tidak ingin berdiam diri di rumah. Saat ini di sana tidak ada siapa-siapa. Sambil berjalan aku secara diam-diam memperhatikan orang-orang yang tengah berlalu-lalang di sekitar ku.

Beberapa anak sekolahan sedang sibuk melihat-lihat berbagai macam barang di sebuah toko aksesoris yang warnanya serba pink. Di ujung pandangan ku terdapat foodcourt, terlihat seorang anak kecil yang sedang menangis di sana. Ibunya terlihat bingung dan berusaha mendiamkan anaknya. Sementara kenbanyakan orang lainnya hanya berjalan sambil menatap ke dalam etalase-etalase toko sama seperti ku.

Aku mencium aroma yang enak. Aku melirik kekanan dan ke kiri. Mencari sumber aroma itu. ternyata aroma itu berasal dari toko roti, tidak jauh dari tempatku berdiri sekarang. Perutku tiba-tiba saja menjadi lapar.

Aku mendekati toko roti itu dan mulai melihat macam-macam roti yang dipajang. Roti blueberry! Roti yang sama seperti waktu itu. Sama seperti yang kamu berikan pada ku delapan tahun lalu.

***

Aku berdiri sambil memegang lutut. Napasku tersengal-sengal. Aku telah lelah berlari. Hampir setengah jam aku terus berlari. Aku lari dari kejaran mereka. Mereka yang memaksa ku untuk bekerja dengan cara mencopet.

“Sepertinya mereka sudah tidak mengejarku lagi.“ Gumamku lega.

“Hei!!“ sapa seseorang. Aku sontak berbalik dan menjauhkan diri dari orang itu. orang itu adalah kamu.

“Wajahmu pucat, kamu sakit?” ucapmu. Aku tidak menjawab pertanyaan mu.

Waktu itu aku masih tidak mengenal mu. Aku memperhatikan mu sejenak. Kamu masih muda, mungkin delapan sampai sepuluh tahun lebih tua dari ku. Kamu tinggi, aku sampai harus mendongak untuk melihat wajahmu. Tapi, sepertinya kamu bukan orang jahat.

Kamu lalu mengajakku duduk di sebuah bangku taman dan memberi ku minuman.

“Kamu tinggalnya dekat sini?” tanyamu. Aku diam dan hanya menggeleng.

“Lalu kamu tinggal dimana?” tanyamu lagi.

“Aku gak punya yang seperti itu.” jawabku sambil menunduk.

Kamu terus saja menanyai ku. Aku heran, dari mana kamu mendapatkan pertanyaan sebanyak itu? Tapi entah kenapa aku tak menolak untuk menjawabnya dan jadi menceritakan semua yang kualami.

Setelah menceritakan semuanya. Kamu mengajakku ke suatu tempat yang tidak jauh dari taman. Ke sebuah rumah yang sederhana. Sebuah panti asuhan. Katamu, “Aku tinggal di sini.”

“Kamu lapar?” tanyamu sesaat setelah memintaku duduk di kursi ruang tamu. Aku mengangguk cepat.

“Nih, cuma ada ini. Jatah makan malam belum dibagikan.” Kamu menyodorkan sebungkus roti. Roti blueberry.

Aku memakan roti itu dengan lahap. Enak sekali! Aku memang sedang lapar. Sejak semalam aku belum makan.

“Entar ku kenalin sama ibu panti ya. Semoga saja kamu dibolehkan tinggal di sini.” katamu sambil tersenyum. Aku diam saja dan terus menghabiskan roti pemberianmu.

***

Aku memutuskan untuk duduk di salah satu kursi yang terletak di salah satu sudut mall. Aku lelah berkeliling. Ku lihat roti blueberry yang baru saja ku beli. Aku mengingatmu lagi.

Delapan tahun lalu setelah aku dibolehkan tinggal di panti asuhan yang sama dengan mu, kamu menghilang begitu saja. Kata ibu panti, saat aku tidur kamu dijemput oleh orang tua yang akan mengadopsimu.

Aku bahkan belum mengenal mu. Aku bahkan belum berterima kasih pada mu.

Ku gigit roti blueberry tadi. Rasanya mirip dengan yang kamu berikan pada ku saat itu. Tanpa ku sadari air mata menetes membasahi pipiku. Aku cepat-cepat menghapusnya. Aku tidak ingin larut dalam kesedihan. Saat aku baru saja akan beranjak pergi, aku melihat mu berlalu dihadapan ku.

Kamu berjalan terus dan menaiki eskalator. Mataku mengikuti sosokmu. Aku masih ingat betul raut wajahmu. Matamu. Senyummu. Sangat jelas di ingatanku. Dan saat sosokmu hampir menghilang. Aku beranjak, berlari mengikuti jejakmu.

Aku tidak tahu apakah kamu masih mengingat ku atau tidak. Aku tidak tahu apakah aku bisa membuatmu ingat pada ku. Aku hanya ingin bertemu denganmu sekali lagi. Aku ingin mengucapkan satu hal yang tidak pernah ku sampaikan pada mu. Terima kasih.


"I’m holding back my tears, I promise
I have to be stronger than anybody
We don’t need to say goodbye, when I close my eyes
I can see you right away, I remember you" YUI - I remember you
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home