Masih ingat sama buku #YUI17Melodies yang beberapa waktu saya bahas??
Masih ingat dong ya? xD
Kalo ga ingat atau belum tau, silakan cek postingan saya sebelumnyaa~ :D

Nah, kali ini saya mau memperlihatkan wujud cetakan pertamanyaa...
Jang jang...

source http://ramdanih.blogspot.com/2012/04/antologi-nada-yui17melodies-sebuah.html?spref=tw 
Dan yang jadi orang pertama membacanya adaah kak Danih (koor. YI reg Jakarta, mantan tepatnya :P).

Buku yang menarik di baca. Flash Fiction nya kena bgt. Ada yang beberapa pengalaman/kisah nyata dari para penulis.
Tema nya di ambil dari lagu-lagu YUI. Jadi isi dari para penulisnya pun gak kalah mengispiratif. Saya pikir ini buku bukan cuma untuk para YUI Lovers, tapi tepatnya untuk semua kalangan. :)
Begitu pendapat kak Danih soal buku ini.. :D

Tertarik buat baca juga?? Belum?? Belum liat ini sih..

Halo, Pemirsa~ :D
Lama ga jumpa.. Blog saya yang sepi ini makin sepi aja karena ga diisi dengan tulisan-tulisan lagi belakangan ini..
Maklum, mahasiswa.. sibuk ngerjain tugas jadi ga sempat nulis.. *alesan


Malam ini (jam di laptop saya menunjukkan pukul 01.28 WITA), saya belum bisa tidur pemirsa...
Jadi dari pada berkeliaran ga jelas di TL, saya pengen nulis tentang proyek nulis yang saya ikuti.. :D
Kedua proyek ini akan segera rilis dalam bentuk buku~ Yey! xD


Proyek pertama, Why We Are So In Love With YUI..
cover Why we are so in Love with YUI
Proyek yang digarap oleh kak Cizu ini dimulai sekitar 14 Januari 2012. Awalnya kupikir udah ga sempat ikut, soalnya saya baru tahu soal proyek ini sebulan kemudian.. Tapi ternyata deadlinenya diperpanjang.. Dan jadilah saya ikutan.. xD




Buku wwasilwYUI ini berisikan tentang YUI-lovers di Indonesia, sejarah YUI, sejarah komunitas kami tercinta, YUI-indo dan kisah nyata yang kami (para kontributor) alami selama menjadi YUI-lovers~ :D

Judul : The Coffee Shop Chronicles
Year : 2012
Harga : IDR 35.000
Penerbit : nulisbuku.com


Buku ini berisikan kumpulan Flash Fiction berantai dari 21 penulis. Terdiri dari 29 FF yang saling bertautan. Semua cerita berlatarkan satu tempat, sebuah coffee shop di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Ada perasaan cinta, cemburu, penyesalan, air mata, dan bahagia. Semua digambarkan secara unik oleh penulis-penulisnya.

Saat membaca buku ini, saya merasa seperti sedang berada di dalam coffee shop tersebut dan melihat semua adegan-adegan yang ada dalam cerita. Itu karena keajaiban sudut pandang dalam buku ini!

Pernah baca buku atau novel yang memakai dua sudut pandang? Itu sudah biasa! Tapi apa kalian pernah baca buku dengan berbagai sudut pandang? Pasti belum pernah kan? Nah, sudut pandang inilah yang membuat The Coffee Shop Chronicles menjadi sesuatu yang menarik dan layak untuk dibaca!

Penasaran? Segera dapatkan bukunya dengan memesan di nulisbuku.com atau hubungi mbak Wangi lewat twitternya @WangiMS ~ :D
sumber : 2.bp.blogspot.com


Tik tok tik tok.

Hening. Hanya detak jam dinding yang terdengar. Aku terpaku di depan layar laptopku. Menatapnya nanar. Aku menghela napas.

Apa yang akan Ayah katakan jika mengetahui hal ini? Ah, aku pasti akan kena marah. Oh, Tuhan! Apa yang harus hamba lakukan?

Aku menghela napas sekali lagi. Kututup katup laptopku dan memilih untuk tidur. Semoga besok aku bisa menemukan jalan keluar dari masalah ini.
***

Aku berlari sambil memegang tas jinjing. Aku tiba di halaman kampus dan segera mencari seseorang. Fardan. Teman seangkatanku. Dia mungkin bisa membantu ku. Dia terkenal hebat dalam menyelesaikan masalah seperti ini.

Dia terlihat sedang asik mengobrol dengan beberapa teman seangkatan kami. Aku mendekatinya.

“Dan, bisa minta waktu bentar gak?”

“Boleh. Ada apa, Fit?”

“Kita ngomongnya di kelas aja yuk!” Fardan menurut dan mengekoriku menuju kelas.

Fardan tampak sedang sibuk mengutak-atik benda berbentuk kotak di depannya. Setelah beberapa lama, dia berhenti dan menyandarkan tubuh ke sandaran kursi yang didudukinya.

“Gimana, Dan?” tanyaku penasaran. Fardan menggeleng.

“Kalo kayak gini susah, Fit! Kayaknya lo mesti bawa ke service centernya deh!”

Lagi-lagi aku menghela napas panjang. Ada rasa kecewa yang mendalam di dalam dadaku.
***

Kali ini aku sedang berada di sebuah gedung yang penuh dengan barang-barang elektronik. Orang-orang menyebut tempat ini sebagai Computer City.

Tempat ini adalah harapan terakhirku. Aku menuju service center yang disarankan Fardan tadi. Semoga saja masalahku ini menemui titik terang.

“Gimana, Pak?” tanyaku pada seseorang di service center. Bapak yang kutanyai memperlihatkan reaksi yang sama dengan Fardan.

“Kalo gini susah buat diperbaiki lagi, Dek! Mesti ganti sel!” katanya.

“Ganti sel??” aku bingung. Tidak mengerti apa yang dikatakan Bapak itu.

“Iya, ganti sel. Seluruhnya. Hardwarenya rusak, Dek! Saya sarankan , mending beli baru aja.”

Heh?? Separah itukah?

Aku meninggalkan Bapak  tadi sembari senyum tipis. Di kepalaku otakku tengah bekerja keras. Memikirkan apa ada cara lain untuk ini. Tapi aku tidak menemukan cara lain itu.

Laptop ini adalah barang kesayanganku. Laptop ini sudah banyak membantu ku dalam mengerjakan tugas-tugas dari dosenku. Selain itu, laptop ini juga pemberian dari Ayah dua tahun lalu saat aku berulang tahun.
Semalam saat mengerjakan tugas sambil mendengarkan musik. Tiba-tiba laptopnya mati dan tidak bisa dinyalakan lagi. Aku sudah mencoba mencari bantuan tapi tidak berhasil.

Harus bagaimana lagi? Mungkin laptop ini sudah sampai pada batasnya. Mungkin ini juga salah satu cobaan dari Tuhan yang harus ku hadapi. Aku juga harus siap dengan reaksi Ayah nanti saat mengetahui hal ini.

Selamat tinggal laptopku. Terima kasih atas bantuannya selama dua tahun ini.
Aku baru saja tiba dari bandara. Orang pertama yang ingin ku temui adalah kamu. Namun, aku tidak lagi dapat melakukannya. Saat tiba di rumah mu. Tidak satu orang pun menyambutku. Bakhan kamu pun tidak. Semuanya sedang bersedih. Bersedih karena kepergian mu.

Aku memasuki ruang tengah rumahmu. Terlihat tubuhmu telah terbujur kaku diselimuti kain putih. Orang-orang mengelilingi mu sambil membacakan doa. Ibumu terlihat begitu rapuh dan terus menitikkan air mata. Sementara adik kecilmu memilin-milin kain yang menutupi tubuhmu. Mungkin dia belum memahami hal ini.

Saat melihatku, ibumu tersenyum tipis dan membolehkan ku untuk mendekati mu. Aku duduk tepat di sampingmu. Wajahmu terlihat lebih putih dari biasanya. Terlukis kebahagiaan di sana. Mungkin kamu lega karena bisa meninggalkan semua derita karena penyakit yang kamu alami semasa hidup.
***

Pemakaman mu  telah selesai. Aku memutuskan untuk meninggalkan tempat peristirahatan terakhirmu dengan segera. Aku tidak bisa lama-lama. Aku takut aku akan menangis juga jika terlalu lama di sini. Saat aku akan memasuki mobil, ibumu memanggilku.

“Nak Raka, ini ada sesuatu.” Katanya sambil menyodorkan secarik kertas.

“Apa ini tante?”

“Ini surat yang ditulis Nina saat sedang kritis dan tidak sempat dikirim kepada mu.” Kata ibumu kemudian berlalu meninggalkanku.

Aku menatap kertas berwarna biru cerah yang ku pegang. Aku memasukkannya ke dalam saku kemeja. Dan berencana membacanya saat di rumah.
***

Raka, apa kabar? Bagaimana kabar di L.A? Apa kamu sudah dapat teman baru?
Kata dokter Serdi, kondisiku sudah semakin membaik. Jadi jangan mengkhawatirkanku ya!
Aku juga punya teman baru sekarang. Namanya Wini!  Dia menderita penyakit yang sama denganku. Setiap hari kami selalu mengobrol di taman rumah sakit. Aku jadi tidak kesepian lagi.
Raka di sana gak kesepian kan?
Aku akan selalu doain Raka biar kuliahnya sukses di sana.
Baik-baik ya~ :D
NINA

Isi surat dari mu begitu singkat. Namun sanggup menghancurkan tembok yang membendung air mataku. Aku menangis. Nina, kamu bagitu baik. Saat sedang kritis pun kamu masih memikirkan aku. Saat kondisi mu semakin buruk kamu masih saja mendoakan ku. Kamu juga berbohong tentang keadaanmu agar aku tidak mengkhawatirkan mu. Aku menjadi sedikit menyesal telah mengambil beasiswa itu dan memilih untuk meninggalkanmu.

Ku baca tulisan di atas kertas biru itu sekali lagi. Kali ini aku menyadari, ada sesuatu yang aneh pada tulisannya. Ada beberapa huruf yang sengaja ditebalkan. Aku mulai menyusun huruf-huruf itu dari atas.

PLEASE STAY WITH ME…

Apa itu yang sebenarnya ingin kamu sampaikan pada ku, Nina?

Aku menangis lagi. Aku merasakan perih di dadaku. Aku ingat kamu selalu tersenyum saat aku bilang aku akan pergi ke L.A untuk kuliah di sana. Kamu selalu mendukungku untuk tetap pergi ke sana. 

Inikah keinginanmu yang sebenarnya? Aku yang bodoh ini sungguh tidak menyadarinya.

Kali ini aku benar-benar menyesal telah meninggalkan mu. Kali ini aku benar-benar menyesal karena tidak di samping mu. Bahkan di saat-saat terakhirmu…
Next PostNewer Posts Previous PostOlder Posts Home