Akhirnya, tiba juga masa di mana saya bisa ngepost, dan bikin Wrap Up buat Challenge tahun kemaren, ngumpulin receh buat dibeliin buku.

Sebenarnya udah dari bulan Desember yang lalu recehnya dibelanjain, tapi karena saya *sok* sibuk, baru bisa laporan sekarang.

Oke, jadi...
Receh yang terkumpul tahun kemaren lebih dari dua kali lipat daripada jumlah receh tahun 2014. Di mana sebelumnya hanya 140ribu-an, di tahun 2015 saya bisa ngumpulin Rp 315.000!!
Sempet kaget juga sih, ternyata recehnya udah sebanyak itu aja.
Tentu saja ini berkat bantuan orang-orang di rumah. Karena tahu saya ngumpulin receh, tiap mereka punya recehan, pasti dikasih ke saya. Hihih :3

Dengan receh tersebut, saya membeli beberapa buku dan..
Celengan baru! *Rp 27500
Itu loh, celengan kelinci hitam yang ada di foto (di atas).
Ada lubang yang bisa di buka-tutup di bagian bawahnya, jadi gak perlu mecahin celengan lagi.. xD

Dan, ini dia buku-buku yang saya beli :
Winner Best Book 2015 di kategori Misteri dan thriller Goodreads, dari pertama liat emang udah penasaran.

The Girl On The Train - Paula Hawkins
Rp 87000










Ini bakal jadi buku pertama Tere Liye yang akan saya baca. Beberapa kali disaranin baca buku Tere Liye, dan baru terpengaruh sekarang.
Milih Series Bumi ini dulu, sepertinya seru!

Bumi - Tere Liye
Rp 97000









Dua buku ini saya beli pas lagi ada diskonan buku terbitan Gramedia.

Let The Right One In - John Ajvide Lindqvise
Rp 35000

Jane Eyre - Charlotte Bronte
Rp 25000






Nah, yang ini saya beli buat hadiah Ultah ke-9 adek perempuanku. Dia agak males baca buku, makanya saya coba ngasih dia buku yang berwarna dan ada gambarnya biar dia tertarik buat baca.

Sepatu Balet Vania - Dewi Cendika
Rp 15000











Ini yang terakhir. Nemunya juga pas lagi ada diskonan di salah satu tokbuk. Milih dua ini karena covernya yang catchy.

Tiga Burung Kecil - Clara NG
Rp 15000

Cooking With You - Yoana Dianika
Rp 20000






Kalau ditotalin, semuanya jadi Rp 321500.
Saya hanya nambah 6500.. :D

Oke, sekian laporannya.
Tahun ini saya ikutan Receh Untuk Buku lagi. Semoga Recehnya bisa lebih banyak lagi.
Aamiin.. xD
Judul : Dilan Bagian Kedua: Dia adalah Dilanku Tahun 1991
Penulis: Pidi Baiq
Cetakan Pertama, 2015
Penerbit: DAR! Mizan (Pastel Books)
Tebal: 344 halaman 
ISBN: 978-602-7870-99-4








Novel lanjutan dari novel Dilan pertama, 'Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990'. Novel ini juga merupakan akhir dari kisah kasih di sekolah antara Dilan dan Milea karya Pidi Baiq.

Milea Adnan Husain, Milea, atau biasa dipanggil Lia, siswi pindahan dari Jakarta yang jadi inceran di sekolah barunya di Bandung kini sudah resmi berpacaran dengan Dilan, panglima tempur anak geng motor yang sering ngumpul di warung Bi Eem.

Kisah di buku kedua di awali dengan beberapa repetisi dari buku pertama. Lumayan banyak, jadi yang belum baca buku pertama bisa langsung baca buku kedua ini *tapi saran saya, mending baca yang pertama dulu*

Sama seperti buku pertama, karena gaya penulisan Pidi Baiq yang ringan, baca buku ini bisa cepet dan lancar.

Walaupun saya tidak mengharapkan apa-apa dari buku ini, saya kecewa.

Bukan sama endingnya, bukan sama sekali.
Yang itu sudah bisa saya tebak, ada feeling juga endingnya bakal begitu sejak baca buku pertama.

Saya kecewa sama Dilan. Saya kecewa sama Milea.
Kecewa sama cara mereka menyelesaikan masalah mereka.

Aku tidak suka dikekang - Dilan, hal 311

Well, saya gak bisa terlalu menyalahkan mereka juga sih. Saya rasa itu (mungkin) hal yang wajar karena mereka masih remaja. Masih labil. Tapi tetep aja kecewa.

Meski kecewa, kekocakan masih bisa saya temukan dalam buku ini. Kisah-kisah Dilan sebelum ketemu Milea yang diceritakan Piyan dan Wati, gombalan-gombalan khas Dilan juga masih ada. Walau, ya, ga sebanyak di buku pertama. *yang ini banyakan nangis-nangisannya*

Untuk ending, saya rasa cukup untuk mengakhiri kisah Milea dan Dilan.

Hanya saja, saya merasa butuh gambaran perasaan Dilan setelah kejadian itu.
Bahkan sampai terlintas dipikiran saya, gimana ya kalau Pidi Baiq bikin buku judulnya "Milea: Dia adalah Mileaku Tahun 1991" isinya cerita yang sama tapi pake sudut pandang Dilan. hahah..

*EDIT : Udah dikonfirmasi bakal ada buku Milea doong... *beritanya udah lama sih, cuma baru sempet ngedit postingan ini sekarang :P* My wish came true.. xD

Sebenarnya agak galau ngasih rating, jadi kuputuskan untuk memberi setengah dari lima bintang.
Dua setengah bintang untuk Dilan Bagian Kedua.
Penulis: Orizuka 
Cetakan Pertama, Juni 2015 
Series : The Chronicles of Audy #3 
Penerbit: Haru 
Tebal: 320 halaman 









Hai. Namaku Audy.
Umurku masih 22 tahun.
Hidupku tadinya biasa-biasa saja,
sampai aku memutuskan untuk bekerja di rumah 4R dan jatuh hati pada salah seorang di antaranya.

Kuakui aku bertingkah (super) norak soal ini,
tapi kenapa dia malah kelihatan santai-santai saja?
Setengah mati aku berusaha jadi layak untuknya, tapi dia bahkan tidak peduli!

Di saat aku sedang dipusingkan oleh masalah percintaan ini, seperti biasa, muncul masalah lainnya.

Tahu-tahu saja, keluarga ini berada di ambang perpisahan. 
Aku tidak ingin mereka tercerai-berai, tapi aku bisa apa?

Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang masih saja ribet.
Kronik dari seorang Audy.

Setelah menunggu beberapa bulan akhirnya buku ketiga serial Audy terbit juga. (Dan saya dapet Pembatas Rafael lagi. Untuk ketiga kalinya.. x.x)

Tapi yah, agak kecewa sama buku ketiga ini.

Pertama : Karakter Audy ga ada kemajuan. Malah terkesan labil.. x.x
Kedua : Walaupun saya Team R3, pembahasan soal perasaan Audy ke R3 itu terkesan berlebihan. Oke, R3 emang, yah you know lah, emang seperti itu. Tapi tingkah si Audy itu Alay bgt.. Ga bisa tenang sedikit apa ya.. x.x
Ketiga : Skripsi Audy belum juga kelar.
Keempat : Klimaksnya dibahas sedikit doang... Cuma beberapa bab terakhir. Itupun diselesaikan dengan 'agak' biasa.

Tapi terlepas dari kekecewaan yang saya paparkan di atas. Gaya penulisan mbak Orizuka emang mengalir seperti biasa. Baca buku ini terasa sebentar. Saya juga masih sempat tersenyum-senyum sendiri di beberapa bagian. Pesan-pesan kekeluargaannya pun masih dapet.

Mungkin kekecewaan saya ini karena saya berharap lebih..

Semoga kalo emang dibuat lanjutannya, bisa lebih dari pada seri-seri sebelumnya.
Biar bisa kasih rating bagus lagi.. hihih :3

Yang ini, cukup 3 bintang ya, mbak Ori.. ;D
 Judul : Bumi Manusia (Tetralogi Buru #1)
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Cetakan Pertama, 2005 (First Published 1975)
Penerbit: Lentera Dipantara
Tebal: 535 halaman 
ISBN: 978-979-9731-23-4








Roman Tetralogi Buru mengambil latar belakang dan cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.

Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.

Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimentil: Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu .... Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.

"Kita kalah, Ma," bisikku.

"Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya."

Ini buku sastra indonesia pertama (seingat saya) yang saya baca, sekaligus buku perkenalan pada Pramoedya -yang ternyata seterkenal ini-.

Gaya bahasa yang digunakan, cara penggambaran yang deskriptif membuat saya merasa sedang membaca buku terjemahan dan mengira awalnya buku ini memang ditulis dalam bahasa bukan Indonesia.

Sebenarnya saya tidak bisa berkomentar banyak tentang buku ini. Isi dan konflik di dalamnya benar-benar baru bagi saya. Sejauh yang saya tangkap, masalah utama yang dibahas adalah tentang Pribumi, Indo dan Eropa Totok (yang saya kira artinya adalah Orang Eropa asli).

Di luar permasalahan pelik tentang Pribumi dan sebagainya itu, buku ini tetap bisa dinikmati walau kadang bisa membuat saya mengernyitkan alis karena tidak mengerti beberapa istilah dalam buku ini.

"Kau dalam kesulitan, Minke. Kau jatuh cinta." - Jean Marais, hal 77

Untuk tokoh favorit, sepertinya saya tidak akan memilih tokoh utama. Minke ataupun Annelies belum bisa merebut perhatian saya. Kisah cinta mereka terlalu berlebihan (menurut saya) mengingat usia mereka yang masih sangat muda.
Oh, dan Anne ini mengingatkanku pada Milea (tokoh dalam buku Dilan) yang karakternya hampir sama.

Saya lebih tertarik pada Nyai Ontosoroh.
"Mana mungkin? Mama bicara, membaca, mungkin juga menulis Belanda. Mana bisa tanpa sekolah?"
"Apa salahnya? Hidup bisa memberikan segala pada barang siapa tahu dan pandai menerima." - Nyai Ontosoroh, hal 105

Walaupun agak panjang, kisah tentang Nyai Ontosaroh begitu menarik untuk dibaca. Mengingatkan sama satu buku yang juga pernah saya baca, anak-anak perempuan yang dipingit di usia muda dan dipersiapkan untuk lelaki kaya tak peduli muda atau tua di luar sana.. 14 tahun aja udah dianggap perawan tua.

Ada beberapa hal yang menarik dalam buku ini. Saya baru tahu kalau ternyata wanita-wanita Jawa dulunya dipangur (diratakan gigi taringnya). Juga pomade, yang sedang tren saat ini dikalangan para pemuda, ternyata telah digunakan sejak tahun 1900-an (Menurut informasi dari teman saya, ternyata pomade ini sudah ada sejak tahun 1800an).

Ending buku ini agak gantung. Mungkin akan lebih dijelaskan di buku berikutnya. Semoga.

Jadi, pada akhirnya saya tidak bisa memberi banyak bintang, untuk bumi manusia, cukup ★★★. ;D
Judul : Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun1990
Penulis: Pidi Baiq
Cetakan Pertama, 2014
Penerbit: DAR! Mizan (Pastel Books)
Tebal: 332 halaman 
ISBN: 978-602-7870-41-3








"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja" (Dilan 1990)

"Milea, jangan pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu, nanti, besoknya, orang itu akan hilang." (Dilan 1990)

"Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Kalau kamu tidak setuju, aku tidak peduli." (Milea 1990)
*Nulis review ini sambil nunggu Dilan Bagian dua tersedia di toko buku di Makassar*

Dilan, dikenalkan padaku oleh seseorang. Buka goodreads dan langsung penasaran berkat blurb-nya! :D

Akhirnya minjem buku ini dan segera ditamatkan dalam semalam.

Buku ini juga jadi media perkenalan pada Pidi Baiq. Penulis unik dengan gaya menulis yang baru kali itu saya temui. Lucu, kadang sedikit aneh tapi tetep kece.

Sebenarnya tema yang diangkat dalam novel ini biasa aja. Dilan, anak geng motor yang jatuh hati pada Milea yang cantik. Plotnya juga biasa aja. Iya, gitu aja. Serius.
Namun yang membuat buku ini seru dan ngegemesin, tentu saja si Dilan. Cara ngomongnya, gombalan uniknya. Bikin meleleh deh pokoknya.



Tapi ya, saya belum menemukan alasan Dilan menyukai Milea, selain cantik. Soalnya Milea bagi saya itu manja, panikan dan sedikit kekanak-kanakan. Suka merajuk dan memaksa. *digebukin fans Milea*

Sebenarnya banyak banget quote yang kece dari buku ini, tapi menurut saya, lebih enak jika langsung baca sendiri dari bukunya. Apalagi puisi-puisi yang dibuat sama Dilan.. Ya, ampun.. 



Selain gaya bahasa yang unik, salah satu yang membuat buku ini menarik adalah ilustrasi di dalamnya -yang belakangan saya tahu kalau itu digambar oleh Pidi Baiq sendiri-. Bahkan di awal buku ada perkenalan tokoh-tokohnya seperti dalam komik. Jadi, sambil baca bisa sambil membayangkan wajah tokoh-tokoh yang ada.

Buku yang seru dan menghibur.  ★★★☆ buat Dilan dan Milea :D
Judul : The Truth about Forever : Kebencian Membuatmu Kesepian
Penulis: Orizuka
Cetakan Pertama, 2008
Penerbit: Gagasmedia
Tebal: 284 halaman 
ISBN: 978-979-7802-29-5











Seberapa berharga sih satu detik itu? Tik. Sebentar saja dia langsung berlalu. Tik. Satu detik pergi lagi. Tak ada harganya.

Tapi tunggu sampai kau sadar waktumu hampir habis. Tik. Kau ingat selama ini jarang beramal. Kau teringat mimpi-mimpi yang nggak sempat kau wujudkan. Kau sadar nggak cukup menyayangi keluarga dan teman-temanmu. Tik. Tik. Tik. Kau panik, takut menyia-nyiakan lebih banyak waktu lagi. 
Buku ini hasil dari ikutan GA, bukunya kecil dan tipis. Tipe sekali baca, gak sampai 2 jam, udah ludes.
Ini buku pertama mbak Orizuka yang diterbitin sama Gagasmedia. Karena saya emang baru pertama kali baca karya lama mbak Ori, buku ini berasa kayak bukan mbak Ori. Acuan saya serial Audy sih, ya, jelas aja jauh.

Buku ini rasanya kelam banget ih. Gak suka adegan nangis-nangisannya yang kebanyakan. Gak si Kana, gak si Yogas, semuanya pada doyan nangis di buku ini. Walaupun memang, hidup Yogas itu berat dan pantas buat ditangisin sih. Mungkin emang saya yang gak dapet sama feel-nya.

Agak ngebosenin juga pas bagian Yogas kerjaannya cuma ke kampus Kana, trus balik kos, trus ke kampus juga. Satu-satunya alasan saya gak berhenti baca buku ini adalah karena penasaran. Penasaran, sebenarnya apa sih yang terjadi sama Yogas pas SMA? Apa sih alasan Yogas ke Jogja?

Saya gak bilang buku ini jelek ya, bagus kok, banyak pesan moralnya. Banyak ngasih pelajaran. Lumayan buat dibaca pas lagi senggang dan butuh bacaan sekali baca.

Jadinya, buat buku ini saya kasih ★★★☆☆
Judul : Summer in Seoul (Season Series #1)
Penulis: Ilana Tan
Cetakan Pertama, 2006
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 280 halaman 
ISBN: 978-602-0310-14-5








Jung Tae-Woo—penyanyi muda terkenal Seoul yang muncul kembali setelah empat tahun menghindari dunia showbiz.

"Aku hanya ingin memintamu berfoto denganku sebagai pacarku," kata Jung Tae-Woo pada gadis di hadapannya.

Sandy alias Han Soon-Hee—gadis blasteran Indonesia-Korea yang sudah mengenali Jung Tae-Woo sejak awal, namun sedikit pun tidak terkesan.

Sandy mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki itu, lalu berkata, "Baiklah, asalkan wajahku tidak terlihat."

Awalnya Jung Tae-Woo tidak curiga kenapa Sandy langsung menerima tawarannya. Sementara Sandy hanya bisa berharap ia tidak akan menyesali keputusannya terlibat dengan Jung Tae-Woo. Hari-hari musim panas sebagai "kekasih" Jung Tae-Woo dimulai. Perubahan rasa itu pun ada. Namun keduanya tidak menyadari kebenaran kisah empat tahun lalu sedang mengejar mereka.
Bagi saya, buku pertama Season Series ini 'kurang manis'. Kurang mengobrak-abrik perasaan. :P

Dari awal sampai akhir cerita tidak banyak hal yang mengejutkan dan terasa datar-datar saja. Kalau bisa dibilang, saya sudah menebak alur ceritanya jadi tidak banyak yang saya harapkan.

Meski bisa menebak alurnya, cerita ini masih bisa tetap dinikmati, kok. Buktinya, saya bisa menghabiskan buku ini tidak lebih dari tiga jam. Di bab-bab akhir kadang saya juga senyum-senyum sendiri karena tingkah Tae Woo yang ngegemesin.



Oke. Bisa disimpulkan kalau bagian yang paling saya suka dari buku ini adalah Jung Tae Woo-nya. Tingkahnya bener-bener ngegemesin dan bikin cewek-cewek meleleh. Selain itu, bumbu romansa dalam buku ini tidak lebay. *tapi ya tadi, kurang manis :P

Dari segi teknis, saya tidak menyangka, buku yang udah cetakan ke-23 ini masih ada typo. Di halaman ada kata "Suasama" yang seharusnya "Suasana".
Juga di halaman 257-258, kesalahan penulisan kata "oom" yang seharusnya "om" diulang-ulang.

Tapi, untuk cover, tetep bikin mata seger. Saya suka semua cover baru Season Series! :D


Berbeda dengan buku kedua Season Series yang saya beri 5 bintang, untuk Summer in Seoul ini saya hanya memberi ★★★☆☆.
Judul : Just So Stories (Sekadar Cerita)
Penulis: Rudyard Kipling
Cetakan Pertama, Januari 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 160 halaman 
ISBN: 978-979-2278-03-3








Just So Stories adalah kumpulan kisah pengantar tidur yang ditulis oleh Rudyard Kipling—penulis novel klasik legendaris The Jungle Book. Dalam kumpulan cerita pendek ini, kisah-kisah lucunya bukan sekadar cerita, tapi juga dihiasi ilustrasi goresan Staven Andersen yang memperkaya kisah-kisah fabel ini.

Walau ditulis lebih dari seratus tahun lalu, cerita-cerita dalam Just So Stories tak lekang oleh zaman karena dipadukan dengan mutiara kebijaksanaan. Di sini kita bisa membaca kisah kenapa unta berpunuk, bagaimana macan mendapat tutulnya, kenapa gajah punya belalai, bagaimana alfabet diciptakan, dll. Semua kisah ini akan membawa Anda menuju petualangan menembus waktu dan imajinasi pengarang peraih nobel sastra, Rudyard Kipling.

Buku ini bisa dibaca oleh semua umur dan terutama bisa menjadi hadiah indah bagi putra-putri tercinta untuk membuka wawasan imajinasi dan kecintaannya terhadap buku. 

Karena buku ini berisi fabel, dari awal saya memang bertujuan untuk memberikan buku ini pada adik saya (sekarang, 8 tahun). Tapi, setelah membaca 3 cerita di dalamnya. Saya jadi tahu kalau membiarkan adik saya membaca buku ini sendiri, dia akan kesulitan untuk mencerna kalimat-kalimatnya. Sungguh, banyak kalimat yang menurut saya 'berat' dan sulit dimengerti. Jadi saya memutuskan untuk selalu mendampingi adik saya saat membaca buku ini.


Terlepas dari hal itu, cerita yang disajikan dalam buku ini memang menarik, apalagi bagi anak-anak yang memang senang bertanya. Begitu pula ilustrasi yang ada di dalamnya.

Ini pertama kalinya saya membaca karya Rudyard Kipling, tapi saya cukup dibuat kagum olehnya. Saya rasa, Rudyard Kipling ini memiliki imajinasi yang tinggi sebab dapat memikirkan cerita-cerita yang sama sekali tidak terpikirkan. Apalagi tentang bagaimana alfabet diciptakan, pasti sulit membuat cerita seperti itu.



Secara keseluruhan, buku ini bisa dinikmati oleh anak-anak. Namun saran saya, sebaiknya didampingi agar makna yang ingin disampaikan penulis dapat tersampaikan.

★★★☆☆ untuk Sekadar Cerita ini!

Judul : Autumn in Paris (Season Series #2, Repackaged)
Penulis: Ilana Tan
Cetakan Pertama, July 2007
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 264 halaman 
ISBN: 978-602-0310-21-3








Tara Dupont menyukai Paris dan musim gugur. Ia mengira sudah memiliki segalanya dalam hidup... sampai ia bertemu Tatsuya Fujisawa yang susah ditebak dan selalu membangkitkan rasa penasarannya sejak awal.

Tatsuya Fujisawa benci Paris dan musim gugur. Ia datang ke Paris untuk mencari orang yang menghancurkan hidupnya. Namun ia tidak menduga akan terpesona pada Tara Dupont, gadis yang cerewet tapi bisa menenangkan jiwa dan pikirannya... juga mengubah dunianya.

Tara maupun Tatsuya sama sekali tidak menyadari benang yang menghubungkan mereka dengan masa lalu, adanya rahasia yang menghancurkan segala harapan, perasaan, dan keyakinan. Ketika kebenaran terungkap, tersingkap pula arti putus asa... arti tak berdaya... Kenyataan juga begitu menyakitkan hingga mendorong salah satu dari mereka ingin mengakhiri hidup....

Tiga jam Tujuh Belas Menit. Waktu yang lumayan singkat untuk menghabiskan buku ini. Selesai begitu cepat karena saya dibuat penasaran sejak membaca lembar pertamanya.

Buku ini adalah buku pertama dari Season series yang saya baca dan juga merupakan karya pertama Ilana Tan yang saya baca *Oke, kalian bisa menganggap saya katrok karena baru membaca karya penulis tersohor ini :P

Sudah sejak lama saya ingin membaca Season series yang begitu terkenal ini, namun baru sekarang bisa terealisasikan. Itupun hasil minjem. Keinginan buat beli sendiri sebenarnya sudah ada, apalagi setelah dicetak ulang dengan cover baru yang sungguh membuat mata saya berbinar-binar, tapi belum kesampaian. *kenapa malah curhat gini?

Autumn in Paris, saya memilih buku ini untuk dibaca terlebih dahulu karena satu alasan yang pasti. Warnanya. Orange. Warna favorit saya. Warna yang membuat saya excited. Karena itu, saya merasa buku ini akan memberikan kisah manis dan romantis. Yes, as always, I didn't read the blurb

Apakah ada yang tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak boleh dicintai? Aku tahu. 

Walaupun di Epilog, ada kesan kelam, namun dari awal bab hingga pertengahan buku, kisah Tara dan Tatsuya ini sungguh manis. Kedekatan mereka yang diawali dengan kebetulan tidak terkesan dipaksakan dan berjalan mulus.

Baru kemudian saya menyadari kalau happy ending yang saya harapkan hanyalah ilusi.
Ya, bagi kalian yang dengan bodohnya tidak membaca sinopsis dan mengharapkan akhir yang indah, jangan membaca buku ini.

Setelah sekian lama gak baca romance, kenapa saya harus mendapatkan buku yang menyesakkan dada begini?

Kata-kata yang dirangkaikan dalam novel entah kenapa terasa begitu dalam dan menyentuh.
Selama dia bahagia, aku juga akan bahagia. Sesederhana itu.
Apalagi surat-surat yang dikirimkan Tatsuya ke acara radio. Setiap kata begitu tulus. Pantas saja kalau Tatsuya jadi banyak fans gara-gara surat itu.

Penggambaran kota Parisnya membuat saya yang cinta Jepang ini langsung tertarik pergi ke sana. Apalagi akhir-akhir ini timeline path dan instagram saya dipenuhi dengan foto-foto kota Paris dan Eropa.

Terlepas dari cerita, saya suka pemilihan font-nya, kecil-kecil namun rapi. Saya memang suka jenis font seperti itu.

Well, karena buku ini memberikan berbagai cita rasa, saya beri ★★★★★ !





Yeay!

Ini dia pengumuman buat pemenang Giveaway yang akan mendapatkan masing-masing satu buah buku The Wind Leading to Love karya Ibuki-sensei.

Total peserta yang ikutan GA adalah 39 orang. Tapi sayang ada beberapa orang yang tidak mengikuti rules sepenuhnya. Jadi, saya terpaksa mengeluarkan beberapa nama dari daftar calon pemenang.

Pemenang yang saya pilih adalah yang mengikuti semua rules dan memberikan jawaban yang agak berbeda dibanding peserta lainnya menurut saya tentunya :P

Oh, ya. mengenai pertanyaan pada postingan sebelumnya.. Saya sebenarnya menunggu jawaban yang agak 'nakal' dari peserta.

Seperti, "Aku pengen balik ke masa kecil buat happy-happy bentar deh.. Abis itu balik lagi ke masa sekarang buat lanjutin perjuangan hidup!" Hihihi :3

Tapi ternyata kebanyakan menanggapi pertanyaannya dengan serius, ya? Hehe..

Oke.. inilah Pemenangnya :

1. Noer Anggadila
2. Etika Setya

Selamat, ya!

Pemenang akan saya hubungi via twitter untuk meminta alamat lengkap buat ngirimin hadiahnya.
Jika dalam 2x24jam tidak ada balasan, saya akan memilih pemenang lainnya.

Yang belum menang, jangan kecewa dulu. Semoga menang di blog lainnya!
Jangan lupa ikutan kuis FINALE juga.. :D
Previous PostOlder Posts Home